Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat bagi kita semua yang telah menyelesaikan Program Pemagangan ke Jepang selama 3 tahun. Dalam kesempatan ini saya ingin membagi pengalaman saya magang 3 tahun di Jepang dan setelah pulang ke Indonesia untuk menambah motivasi bagi adik-adik kita yang mempunyai cita-cita untuk lebih maju. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Depnakertrans dan IMM Japan yang telah memberikan kesempatan kepada pemuda Indonesia untuk belajar sambil bekerja di Jepang dan semoga Program Pemagangan ini dapat terus berjalan dengan baik dan lebih baik lagi.
Saya termasuk orang yang terlambat mendengar informasi magang ke Jepang ini. Keinginan saya untuk ke Jepang telah ada sejak saya kuliah DIII Kimia di Unpad Bandung. Pada saat itu saya telah mengikuti kursus Bahasa Jepang selama 8 bulan, namun informasi mengenai bagaimana cara pergi ke Jepang tidak saya dapatkan. Namun tekad untuk ke luar negeri khususnya ke Jepang terus tertanam dalam diri saya sampai saya menyelesaikan S1 di Teknik Kimia Undip Semarang.
Setelah lulus saya mendapatkan informasi dari teman bahwa Depnakertrans sedang membuka program pemagangan ke Jepang untuk lulusan S1, DIII, dan SMA/STM jurusan teknik. Tanpa menunggu lama, saya langsung mendaftar. Tes yang dilakukan mirip dengan tes AKABRI. Saya memiliki pengalaman tes AKABRI setelah lulus SMA dulu. Adapun tes-tes tersebut yaitu tes fisik, psikotes, wawancara, dan tes kesehatan. Dari tes-tes tersebut yang paling sulit saya rasakan adalah tes fisik lari 2800 m dalam waktu 15 menit. Selama latihan saya tidak pernah bisa mencapai hasil yang baik. Namun pada saat tes tsb dilaksanakan dengan segala kemampuan dan doa akhirnya saya mampu melewati tes tersebut dengan catatan waktu 15 menit kurang 10 detik. Sedangkan tes-tes lainnya saya lalui dengan lancar karena memang sudah saya persiapkan dengan matang dan sering berlatih. Tes fisik seperti push up, sit up dan lari tentunya harus dilatih setiap hari, tes psikotes dapat dilatih dengan mempelajari buku-buku psikotes, dan tes wawancara harus dilatih dengan membiasakan diri berbicara di depan umum dan tumbuhkan kepercayaan diri. Saya kira itu semua dapat dilalui dengan baik bila dilatih terus menerus.
Kemudian saya dan rekan-rekan yang lulus dikumpulkan di pemusatan pendidikan dan latihan di BLKDN Lembang selama 3 bulan. Di Lembang kita dibekali pengetahuan bahasa jepang yang lebih banyak dan juga budaya jepang. Disamping itu kedisiplinan terus diasah selama di sana karena nantinya bila sudah masuk perusahaan di Jepang, kedisiplinan itu menjadi hal yang utama. Tugas-tugas yang diberikan oleh sensei sangat banyak dan harus selesai. Bila tidak hukuman telah menunggu kita. Awalnya cukup berat saya lalui pendidikan dan latihan di Lembang ini, namun akhirnya saya dapat melalui dengan baik. Hal yang paling penting selama pemusatan sebelum keberangkatan ini adalah kedisiplinan dan jangan coba-coba untuk melanggar peraturan yang telah ditentukan.
Pada saat di Lembang, saya termasuk diantara yang ikut diwawancara oleh sacho/senmu dari perusahaan perekrut kenshusei. Saya termasuk sekitar 20 orang yang dipanggil untuk diwawancara oleh perusahaan Sanwa Kakou dan ternyata sewaktu pengumuman perusahaan tempat kita magang saya termasuk 6 orang yang diterima di Sanwa Kakou. Akhirnya kami angkatan 11-14 atau 120 tepat pada tanggal 6 Januari 2003 berangkat ke Jepang. Ucapan syukur yang tiada henti saya panjatkan atas nikmat Allah SWT yang begitu banyak ini. Saya lihat orang tua dan keluarga seluruhnya merasa bahagia dan bangga kepada saya.
Pertama kali menginjakkan kaki di Jepang suasana yang berbeda saya rasakan dibandingkan dengan di Indonesia. Cuaca yang pada saat itu sangat dingin karena memang sedang musim dingin dan tata kota yang sangat rapi serta kebersihan dimana-mana yang sangat baik menjadi hal yang sangat mengagumkan. Kemudian saya masuk Training Centre selama 1 bulan di Sengendai. Saya ditunjuk oleh sensei di Indonesia untuk menjadi RIDA di sana. Sensei di Training Centre Sengendai sudah tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia. Kami dituntut untuk segera beradaptasi dengan lingkungan di Jepang.
Kemudian saya diterima di perusahaan yang ternyata terletak di daerah pegunungan pinggiran kota Maebashi Gunma Ken, cukup jauh dari keramaian perkotaan. Di daerah ini udaranya sejuk dan pemandangannya bagus. Sanwa Kakou merupakan perusahaan pembuatan spare part mobil khususnya Honda dari bahan plastik. Bahan baku utamanya adalah polyprophylene. Saya memulai pekerjaan dengan mensortir part-part yang NG. Cukup senang bekerja di bagian ini karena saya banyak berkomunikasi dengan oba san – oba san yang ramah-ramah. Di bagian ini pulalah kemampuan bahasa jepang saya banyak terasah. Setelah sekitar 3 bulan, saya dipindahkan ke bagian produksi sebagai operator mesin. Seteleh senpai pulang seluruhnya ke Indonesia barulah saya dipercaya oleh Kacho untuk sedikit menangani masalah-masalah baik pada mesin maupun memperbaiki part-part yang NG di samping pekerjaan rutin saya sebagai Dandori yaitu mempersiapkan segala keperluan produksi dari mulai bahan baku sampai dengan pengiriman barang jadi ke bagian sortir dan perakitan.
Selain kegiatan rutin magang kerja di perusahaan ini, saya dan rekan-rekan banyak berhubungan dan berkomunikasi dengan teman-teman perusahaan dari Brazil, Pakistan, dan juga Paraguay. Kami saling bercengkrama, terkadang kami curhat kepada mereka. Banyak sekali hal-hal baru yang dapat menambah wawasan saya mengenai kehidupan di negara lain melalui teman-teman saya tersebut. Selain itu di saat waktu-waktu libur saya sering menyempatkan diri berkumpul dengan sesama kenshusei di kota lain sambil ikut pengajian yang dipimpin oleh mahasiswa Indonesia S2 atau S3 di Jepang. Sesekali saya berkunjung ke Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) untuk mendengarkan ceramah dari ustad-ustad terkenal dari Indonesia yang sengaja diundang ke Jepang dan mengikuti seminar-seminar.
Tidak terasa 3 tahun akhirnya kami pun kembali ke Indonesia dengan segala kenangan dan tambahan pengetahuan serta wawasan dari Jepang. Tidak lama setelah pulang dari Jepang, saya diterima di PT Asno Horie Indonesia yang terletak di Cikarang Bekasi sebagai Staf Quality Control. Sambil bekerja, saya ikut kuliah Akuntansi di salah satu STIE di Bandung. Sekitar 8 bulan saya bekerja di sana, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan teman sebanyak 3 orang untuk mengerjakan proyek-proyek konstruksi baik di instansi pemerintah maupun swasta. Selama dua tahun kami telah melaksanakan sekitar 10 pekerjaan konstruksi yang melibatkan 15-25 orang pekerja tukang dalam sekali pekerjaan. Nilai proyek-proyek yang kami kerjakan berkisar antara 100 juta – 350 juta dengan laba bersih sekitar 8-12% per pekerjaan. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan sekitar 2-5 bulan.
Di samping itu saya bersama Ayah membangun rumah untuk dijadikan kost bagi para karyawan dan mahasiswa di Bandung dan mudah-mudahan di tahun depan rumah kost baru akan kami bangun lagi. Sekarang saya memutuskan untuk off dulu di proyek karena saya diterima sebagai pegawai negeri sipil di Badan Narkotika Nasional di Jakarta. (Staf Adm. Pok.Ahli Gakkum Lakhar BNN).
|